[ads-post]
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Bisnis Hobby - Pernahkah Anda mendengar kisah seseorang yang bangkrut atau gagal dalam berbisnis? Salah satu faktor kegagalan tersebut adalah karena seseorang itu sebenarnya belum siap berbisnis.

Tanda ketidaksiapan seseorang untuk berbisnis secara tidak sadar masih ada di diri seseorang. Melansir halaman Entrepreneur.com, Berikut hal yang bisa membatasi Anda untuk menjadi seorang pengusaha:


1. Kurang memotivasi diri

Menjadi pebisnis harus siap mandiri dan tidak tergantung dengan pihak lain. Maka dari itu, Anda harus bisa memotivasi diri sendiri, ketika target penjualan tidak terpenuhi, atau ketika ada masalah dengan bisnis Anda.

Ingat, Anda adalah bos untuk bisnis Anda sendiri. Tidak ada orang lain yang lebih kuat daripada Anda dalam menghadapi pelbagai gejolak dalam bisnis yang sedang Anda tekuni. Apabila Anda mudah menyerah dan kurang memotivasi diri, berarti Anda tidak siap bergelut dalam bisnis. Sebaiknya mantapkan niat terlebih dahulu.

2. Belum memiliki merek

Berbisnis butuh totalitas. Anda harus percaya diri menampilkan merek Anda. Jangan malu-malu untuk mempromosikan keunggulan produk Anda kepada orang lain. Apabila Anda belum bisa membuat merek, setidaknya ikutlah dengan produsen dengan merek yang memiliki sistem manajemen jelas dan baik.

Apabila Anda tidak berani menampilkan brand Anda dan hanya bermain dengan produsen amatiran, jangan harap bisnis Anda berkembang. Tidak akan ada hal baru yang bisa Anda pelajari untuk mengembangkan diri dalam berwirausaha.

3. Suka bingung dan tertekan

Pebisnis sejati memiliki sikap tegas dalam membuat keputusan. Orang-orang yang menggeluti dunia bisnis juga cenderung memiliki pembawaan santai dan tidak merasa stres. Hal itu karena mereka tidak bekerja untuk orang lain. Maka dari itu, sangat penting bagi Anda ketika memutuskan berbisnis, tekunilah bidang yang disukai gara terhindar dari rasa tertekan.

Saat Anda masih merasa stres dengan bisnis yang Anda jalankan, itu artinya Anda belum siap terjun sebagai pebisnis. Pikir ulang, barangkali ada sesuatu yang salah dengan bidang bisnis yang Anda pilih.

4. Kurang riset

Seorang pebisnis tidak lelah dalam melakukan inovasi. Untuk membuat inovasi dalam produknya, seorang pebisnis harus rajin melakukan riset atau mengamati perkembangan selera konsumen. Harus banyak belajar, agar kreativitas berkembang.

Jangan mengaku siap berbisnis, jika Anda malas melakukan riset dan tidak rajin belajar cara melihat peluang. Di era seperti ini, Anda bisa melakukan riset dengan memanfaatkan media sosial.

5. Kurang gegeret untuk memulai

Untuk membangun bisnis yang kuat, Anda harus punya tekad dalam memulainya. Jika Anda kurang gereget atau bergairah dalam memulai bisnis, jangan harap produk Anda sukses di pasaran. Anda harus senantiasa menjaga semangat dalam berwirausaha. (Vna/Gdn)

Bisnis Hobby - Hikmat Kurnia mengawali bisnisnya pada 2001 dengan mempekerjakan seorang office boy. Kini, 15 tahun kemudian, 1.000 lebih karyawan bergabung dengannya. Perusahaan penerbitannya, Agromedia Group, yang semula hanya melahirkan buku-buku pertanian, sekarang sudah masuk ke semua segmen.

Penulis terkenal, seperti Moammar Emka dan Raditya Dika lahir dari perusahaan penerbitan tersebut. Kini, Agromedia Group menaungi setidaknya 14 penerbitan, bahkan telah merambah bisnis lainnya, mulai dari distributor buku, percetakan, properti, teknologi dan informasi (TI), hingga otomotif.
Tentu saja bisnis tidak selalu berjalan mulus. Pun dengan bisnis yang dilakoni pria kelahiran Bandung 23 September 1967 itu. Menutup perusahaan pernah dilakukannya. Namun, itu dianggapnya sebagai hal biasa. Baginya, menjadi wirausaha di bidang apa pun, yang paling esensial adalah urusan mental.
“Dalam berbisnis, mental itu yang utama. Kita boleh seribu kali jatuh, tapi kita juga harus seribu kali bangkit. Di situlah esensi berbisnis. Hampir tidak ada bisnis yang omzetnya naik terus. Suatu saat pasti turun. Saat turun itulah kita sedang diuji, seberapa kuat kita punya daya tahan,” ujar Hikmat Kurnia di Jakarta, baru-baru ini.
Apa kiat Hikmat agar bisnisnya tidak jatuh lagi di lubang yang sama? Bagaimana strateginya agar bisnis penerbitan buku yang digelutinya tetap eksis di tengah gempuran digitalisasi? Berikut wawancara dengannya.

Bagaimana awal mula Anda terjun ke industri penerbitan buku?
Awalnya karena ada satu impian bahwa kita harus naik derajat dan harus berkontribusi lebih banyak untuk masyarakat. Sebelumnya, saya memang bekerja di industri buku. Sebagai karyawan, ada keterbatasan dari sisi kreativitas dalam mengembangkan usaha tersebut. Atas dasar itu, saya punya impian ingin menjadi wirausaha.

Saya merasa punya modal cukup. Modal itu bukan dalam pengertian uang, tapi karena sudah sembilan tahun bekerja, sehingga punya keahlian, konsep, jaringan, dan kompetensi memadai untuk mengurus buku. Dan, yang terpenting, saya memiliki nama baik di bidang tersebut. Katanya, kalau mau memulai usaha dan berhasil harus dari hobi, keahlian, dan pengalaman.Nah, saya punya keahlian, pengalaman, dan punya hobi di industri buku. Jadi, tidak merasa aneh kalau saya masih lari ke industri buku.

Waktu itu sudah ada pemain besar, Anda tidak takut kalah?
Benar, penerbit buku umum saat itu sudah banyak dan pemainnya besar-besar. Karena itu, waktu pertama saya terjun ke bisnis tersebut, yang saya garap adalah buku pertanian. Pada 2001, saya berpikir buku pertanian pemainnya sedikit. Supaya bisa masuk sebagai pemain yang baik, saya tentu harus melihat ceruk pasar tertentu dan saya melihat ceruk pasar buku pertanian cukup terbuka karena pemain yang besar hanya dua.

Dalam pandangan saya, pemain yang satu cukup tua, sehingga cenderung lambat, yang satu cukup gemuk sehingga tidak agresif. Padahal, saat itu kebutuhan informasi pertanian berkembang cukup baik, hanya saja para penerbit tidak cepat mengantisipasi kebutuhan pembaca. Misalnya, ada tren pertanian yang terjadi saat ini, tapi bukunya baru terbit 3-4 bulan kemudian.
Atas dasar itu, saya mengubah konsepnya, bagaimana agar tren atau isu tertentu dijawab oleh buku, sehingga masyarakat tidak perlu bertanya ke mana-mana karena ada jawaban di buku itu. Caranya, saya ciptakan sistem reportase, memadukan kerja jurnalistik dengan kerja penerbitan buku, sehingga ketika ada isu atau tren baru, maka sebulan kemudian jawabannya sudah ada dalam buku.
Untuk cara ini memang harus dicari tenaga-tenaga muda untuk mampu menghadirkan buku-buku itu. Jika sebelumnya yang menulis pakar atau ahli yang belum tentu bisa menulis, mereka diwawancara dan hasilnya menjadi buku.
Cara seperti itu diterima pembaca?
Ya, dengan cara ini ternyata pembaca lebih suka buku saya karena mampu menjawab tren yang sedang terjadi. Bahkan, cara saya ini menjadi trendsetter karena telah mengubah pola industri buku. Buku pertanian menjadi seksi di mata pembaca. Cara ini pula yang membuat buku tanaman obat kala itu menjadi sangat digemari. Misalnya, buku tentang mahkota dewa. Kebetulan waktu itu setelah krisis, harga obat naik, berobat ke medis mahal, salah satu yang dicari adalah obat alternatif, di antaranya tanaman obat.

Saat itu, lahirlah buku-buku tentang tanaman obat. Pada periode 2000-2001, kami menjaditrendsetter. Kami, Agromedia, telah mengubah pola penerbitan. Secara nasional dengan cepatnya kami masuk lima besar pemain buku nasional dalam waktu kurang dua tahun. Bahkan pada 2003 kami masuk lima besar penerbit buku umum. Kami dengan cepat mengubah kondisi itu dan sekarang kami masuk tiga besar.

Pernahkah Anda di posisi terbawah hingga merasa putus asa saat menjalani bisnis?
Bisnis pasti ada dinamikanya. Apa pun bisnis itu, kita harus siap menghadapi kondisi seburuk apa pun. Esensi bisnis adalah ketidakpastian, sehingga kita harus siap menghadapi risiko. Karena itu, secara teoretis hanya orang yang risk taker yang disarankan masuk ke dunia usaha. Orang yang cenderung tidak mau menghadapi masalah sebaiknya tidak masuk ke dunia usaha. Tugas kita hanyalah bagaimana mengakrabi ketidakpastian itu.

Kalau ditanya apakah pernah bangkrut? Pernah. Buku yang kami terbitkan tidak laku, juga sering. Pernah tidak menutup suatu perusahaan? Tentu pernah. Orang yang tidak pernah memanjat tidak akan pernah jatuh. Kalau pernah memanjat, pasti pernah jatuh.
Menjadi wirausaha, apa pun bidangnya harus siap jatuh karena nilai bisnis yang paling esensial adalah urusan mental. Kalau kita tidak siap jatuh maka kita tidak siap bangkit. Boleh seribu kali jatuh maka harus seribu kali bangkit. Jadi, harus tetap bangkit karena di situlah esensi berbisnis. Hampir tidak ada bisnis yang omzetnya terus naik, suatu saat pasti turun. Saat turun itulah kita diuji, seberapa banyak daya tahan yang kita punya.
Strategi Anda agar tidak jatuh di lubang yang sama?
Harus mempersiapkan diri dengan baik. Ketika membuat bisnis, yang harus diperkuat adalah konsep. Konsep usaha harus jelas, tidak hanya masalah produk, pemasaran, dan modal, tapi juga sumber daya manusia (SDM) dan persaingan usaha. Kita harus paham dunia yang akan kita masuki agar bisa membuat skala usaha, keunggulan yang akan ditawarkan, karena bisnis itu muaranya adalah keuntungan.

Keuntungan bagi saya adalah kepintaran atas pengelolaan perusahaan dan kemampuan memuaskan pelanggan. Kalau tidak mau jatuh, dari awal harus membuat konsep yang baik. Masalahnya, sering kali seseorang tidak punya komitmen untuk menjalankan konsep itu, tidak memiliki keteguhan hati, tidak punya konsistensi, dan tidak mau belajar atas perubahan-perubahan yang terjadi.
Anda memiliki 1.000 lebih karyawan, gaya kepemimpinan Anda seperti apa?
Selama kita menghargai manusia sebagai manusia atau dengan pola memanusiakan manusia. Artinya hak-hak pekerja atau karyawan dihargai dan dianggap sebagai mitra, rasanya gejolak di sebuah perusahaan tidak akan muncul. Jangan menganggap karyawan itu sebagai alat produksi, sebaliknya harus menjadikan karyawan sebagai aset perusahaan.

Bahkan, di perusahaan kami, beberapa karyawan senior sudah menjadi pemilik saham Agromedia Group. Walaupun yang mendirikan Agromedia adalah saya dengan beberapa orang, saat ini salah satu pemiliknya adalah karyawan. Cara ini akan menjadikan karyawan memiliki perusahaan tersebut. Kalau kita mendirikan sebuah perusahaan, maka 20 persen modal didistribusikan kepada karyawan.
Di sisi lain, tujuan saya mendirikan perusahaan adalah memberi manfaat kepada banyak orang. Supaya hidup saya memberi manfaat, saya harus menciptakan banyak perusahaan. Semakin banyak perusahaan, semakin banyak orang yang bisa bekerja. Supaya tidak terjadi ketegangan, misalnya antara perusahaan dan karyawan maka harus diciptakan satu sistem atau budaya keterbukaan, salah satunya agar ide karyawan dihargai. Maka, terbukalah ruang diskusi, karyawan dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang sesuai kapasitasnya.
Dengan pola begitu, tidak ada karyawan di Agromedia yang memiliki hambatan untuk bertemu saya. Silakan berkirim email atau menelepon apabila punya permasalahan yang dianggap melanggar aturan. Di situlah ada keterbukaan dan kepercayaan antara pemilik perusahaan dan karyawannya. Kedua pihak saling memercayai bahwa perusahaan akan memberikan yang terbaik bagi karyawannya, karyawan akan memberi yang terbaik bagi perusahaannya, sehingga tercipta budaya perusahaan yang produktif.

Strategi Anda memajukan perusahaan?
Dalam industri penerbitan, buku itu harus tetap menjawab kebutuhan pembaca. Jadi, yang dijual dalam buku adalah informasi, informasi itu harus sampai kepada pembaca. Untuk itu, pembaca harus tertarik. Misalnya sekarang era media sosial, di mana informasi disebarkan secara gratis melalui Instagram, Twitter, atau Youtube.

Saat ini buku-buku berbasis Youtube laku sekali. Artinya, kami harus tetap memahami tren yang berkembang di masyarakat. Tidak mampu membawa tren di masyarakat, maka buku akan ditinggalkan. Memang ada buku-buku abadi, biasanya dengan tema-tema dasar. Tetapi untuk buku, tetap harus mengikuti tren. Buku harus memiliki enam keunggulan untuk menjadi best seller, yakni konten, kemasan, harga, penulis, promosi, dan distribusi. Enam faktor itu harus menjadi acuan setiap penerbit dan setiap penulis ketika menerbitkan buku.

Saat ini pasar buku terbuka lebar, tidak hanya toko buku, tapi juga internet marketing, e-book, pemerintah, juga komunitas. Karena itu, kami harus membuat varian pasar baru. Daripada menggeser posisi penerbit yang sudah ada, saya lebih memilih melebarkan pasar. Kami bangun toko-toko kecil yang menyebar dekat perumahan di kota-kota kecil dengan bendera Buka Buku Pustaka. Saat ini kan banyak buku yang sudah tidak laku di toko buku besar, tetapi masyarakat masih butuh, maka saya ciptakan saluran distribusi baru melalui cara itu.

Agromedia Group juga berekspansi ke bidang lain, apakah ini bagian dari strategi memajukan perusahaan?
Awalnya kami memang main di penerbitan buku, kemudian mendekat ke distributor buku, kemudian ke percetakan, ke properti, lalu ada bisnis TI dan otomotif. Saya koordinasikan dalam satu payung Agromedia Group, tetapi nama perusahaannya macam-macam dan pada tingkat perkembangannya ada penanggung jawab juga dari masing-masing unit.

Kami membuat sistem supaya bisnis bergerak secara langsung karena kami pasti punya keterbatasan waktu, tenaga, dan pengetahuan. Meski banyak bidang, core business kami tetap penerbitan. Dari sisi laba, kontribusi utama tetap penerbitan buku. Dari 1.000 karyawan saya, sekitar 70 persen juga ada di penerbitan buku, mulai dari segmen pertanian, remaja, pendukung pelajaran, agama, TI, anak, kewanitaan, gaya hidup, hukum, ekonomi, pengembangan diri, hampir semua segmen kami garap.

Apa obsesi Anda yang belum tercapai?
Setiap periode mimpi harus diperbarui. Ketika impian yang kita bangun sudah tercapai, maka kita harus memperbarui mimpi itu. Saya sendiri memiliki banyak mimpi. Untuk mimpi bisnis tingkat pertama, yaitu mempunyai perusahaan, sudah tercapai. Tapi kan hidup tidak hanya soal profit, tapi juga harus berkontribusi atau bermanfaat untuk pihak lain.

Jadi, saya masih memiliki banyak mimpi sosial yang belum tercapai. Untuk mimpi sosial, saya sedang membangun mimpi agar bisa membantu adik-adik angkatan saya kuliah dengan memberi beasiswa, membantu teman-teman yang anaknya kesulitan sekolah. Saya juga bermimpi agar bisa berkontribusi menggerakkan kalangan bawah, misalnya memberdayakan peternak kambing di Ciampea dan Garut selatan dengan sistem kewirausahaan. Saya bermimpi menciptakan sistem kewirausahaan yang ideal dengan lokasi di mana-mana. Saya sendiri tidak ambil keuntungan dari situ.
Filosofi hidup Anda?
Impian itu akan tercapai jika kita berusaha mewujudkannya. Dream will come true if you make it happen. Mimpi atau segala yang kita inginkan akan tecapai kalau kita berusaha mewujudkannya. Dan, yang bisa mewujudkan adalah diri kita sendiri. Yang Maha Kuasa telah memberikan semua yang terbaik kepada kita, tangan dan hati, segala macam hal yang terbaik.

Bentuk rasa syukur atas pemberian yang terbaik itu adalah mengoptimalkan yang kita miliki. Tangan untuk bekerja, otak untuk berpikir, jangan takut lelah bekerja karena besok juga bisa segar lagi. Bekerjalah seoptimal mungkin. Selain itu, berpikirlah positif dan bekerja keraslah untuk bermanfaat bagi banyak orang. Ini seperti yang diajarkan ibu saya.
Seberapa besar peran keluarga dalam bisnis Anda?
Sangat besar, saya punya istri yang luar biasa. Ketika saya mau membangun bisnis, ketika orang meragukan, istri saya adalah orang yang pertama memercayai saya bahwa bisnis yang akan saya lakukan akan berhasil. Istri saya sangat percaya apa pun yang saya lakukan, baik untuk dia maupun keluarga. Awal-awal mendirikan bisnis, penghasilan saya hanya tinggal 30 persen dari saat bekerja di tempat sebelumnya. Tetapi istri saya cukup tabah selama dua tahun untuk menurunkan kulitas hidupnya. (Tri Listiyarini/AB Investor Daily)

Bisnis Hobby - Pindah ke Amerika Serikat, warga Indonesia, Krissant Saraswati Howell yang sebelumnya menekuni profesi sebagai guru bahasa inggris selama sembilan tahun di Sekolah Theresiana di Semarang, memutuskan untuk banting setir dan terjun ke bisnis online bersama suaminya, Roy, di kota Daphne, Alabama.

Pasangan suami isteri ini memiliki dua toko online di Internet yaitu Roy Rose Jewelry yang menjual beragam jenis perhiasan yang sudah lebih dulu dibangun oleh sang suami, dan the Match and Hatch Store yang resmi berjalan bulan Juni 2015. Toko online yang ke-2 ini menjual berbagai pernak-pernik untuk pesta pernikahan dan perlengkapan bayi.


“Yang namanya bayi kan lahir setiap hari, kenapa nggak kita coba untuk bisnis ini saja? Dan kenapa wedding? Karena kita melihat penjualan kami untuk pernak-pernik wedding itu sangat banyak sekali dan akhirnya kita memutuskan untuk itu,” papar Krissant Saraswati Howell yang akrab disapa Kriss ini kepada VOA Indonesia belum lama ini.

Kriss menyadari memang tidak setiap waktu para pelanggannya mencari barang-barang pernikahan, karena di AS biasanya ada bulan-bulan tertentu yang dipilih oleh warga lokal untuk menikah.
“Desember, Juni, Juli. Itu bulan yang sangat sibuk untuk wedding ya,” papar perempuan yang hobi membaca, jalan-jalan, dan olah raga ini.

Menurut Kriss, dengan membuka toko online ia bisa memberikan kenyamanan bagi para pelanggannya yang ingin membeli barang tanpa harus keluar rumah. Tidak hanya itu, melalui toko onlinenya, ia bisa menjangkau para pelanggan yang berasal dari berbagai penjuru.

Harga barang-barang yang dijual melalui dua toko online miliknya ini juga beragam. Ia dan suami berusaha untuk menjual barang-barang yang dapat dijangkau oleh para pelanggan dengan tingkat penghasilan yang berbeda-beda.

Barang-barang yang dijual di Match and Hatch Store seperti taplak meja, buku tamu, tas perlengkapan bayi, dan album foto, semuanya berharga sekitar 154 ribu rupiah ke atas. Sedangkan untuk perhiasan di Roy Rose Jewelry, harga berkisar antara 280 ribu rupiah hingga 70 juta rupiah.
Untuk mempromosikan bisnisnya, Kriss menggunakan media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Tidak lupa juga, ia dan suami aktif bergabung di berbagai organisasi yang berhubungan dengan bisnis online.

“Jadi tidak saja media sosial, tetapi juga lewatcommunity business yang ada di sini juga,” ujar Kriss.
Sekecil apa pun usaha yang dimiliki di AS, seorang pengusaha tetap harus mendaftarkan bisnisnya kepada pemerintah.

“Setiap proses untuk membuka sebuah online bisnis tetap harus ada perijinannya, karena itu kan nanti berhubungan dengan pajak,” jelas perempuan yang juga sempat mengajar les bahasa inggris privat di Semarang ini. 

Selain itu Kriss juga menjual beberapa barang tokonya di berbagai ritel online lainnya seperti e-bay dan Amazon.

Mengenai berbisnis dengan suami, Kriss merasa lebih senang, karena tingkat kepercayaannya menjadi lebih tinggi. Namun, ia dan suami selalu berusaha untuk selalu membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga.

“Kami memisahkan antara rumah tangga dengan bisnis. Jadi ketika jam kerja, kita bicara masalah bisnis, tapi setelah jam kerja ya sudah kita lepas masalah bisnis,” jelas perempuan yang menetap di AS sejak tahun 2015 ini. 

Masalah pekerjaan juga selalu dibahas secara profesional. Mereka melakukan pertemuan setiap minggu untuk membahas bisnis mereka.

“Kami berdua meeting tiap hari senin, kemudian kita diskusikan tentang strategi bisnis dan sebagainya,” kata Kriss.

Kini, Kriss dan suami sudah memiliki satu karyawan yang membantu mereka untuk melayani pelanggan. Untuk ke depannya, mereka berencana untuk terus mempromosikan bisnisnya dan meningkatkan kualitas barang yang mereka jual.

“Kualitas yang kita punya sudah good quality, tapi kita akan mencari yangbest quality,” ujar penggemar masakan tempe penyet ini. 

Selain itu untuk jangka panjang, Kriss juga berencana untuk menjual produk Indonesia melalui toko onlinenya, seperti baju batik dan taplak.

"Rencana sih ada. Tapi inginnya bikin desain sendiri. Mau coba-coba bikin sesuatu yang bisa dipakai. Kalau sesuai dengan pangsa pasar baru mass product," jelas Kriss.

Kepada teman-teman yang ingin membangun bisnis online seperti dirinya, Kriss berpesan untuk berusaha mencari produk yang unik dan sesuai dengan pangsa pasar. (voa)

Bisnis Hobby - Semangat wirausaha Achmad Zaky turun drastis saat usaha mi ayam bersama kawan-kawannya di kampus bangkrut. Keinginan orangtuanya agar dia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) terus membayangi. Namun, keinginannya mendapat gaji lebih besar dan membuka lapangan kerja untuk orang banyak membuat niat wirausahanya terkerek kembali. Semangatnya kembali berkobar.

Zaky, begitu dia disapa, kembali mencoba peruntungannya. Kali ini pikirannya tertuju pada pembuatan situs belanja dengan misi menaikkan kelas Usaha Kecil Menengah (UKM). Dimulai dari sebuah garasi dengan ditemani seorang kawannya, ia membangun situs Bukalapak.com, dan mendekati banyak UKM. Toh, itu pun belum juga berjalan mulus.


Penolakan muncul dari mana-mana, mulai orangtua, kerabat terdekat hingga partner bisnis yang dibidik. Namun, dengan tekadnya, situs belanja tersebut sudah bisa menjaring lebih dari satu juta pengunjung tiap harinya dengan transaksi ratusan juta.

Cerita itu menjadi kisah yang biasa dipakai untuk memotivasi wirausahawan muda hingga saat ini. Zaky bilang, mendapat pekerjaan dan jabatan yang dicita-citakan bukanlah hasil akhir penemuan potensi.

Ia berkisah, saat bekerja di perusahaan milik orang lain, potensi diri yang bisa dipakai masih terbatas. Selain itu, Anda masih dihadapkan pada kemungkinan dipecat.

Satu-satunya cara mengoptimalkan potensi diri adalah dengan berwirausaha. Itulah sebabnya, banyak pengusaha mengaku puas membangun bisnis meski omzet yang diraihnya belum sebanyak pendapatan saat memiliki jabatan penting di tempat bekerjanya dahulu.

Selain itu, masih ada sederet keuntungan saat merintis usaha sendiri. Dilansir oleh entrepreneur.com (29/1/2015), berikut di antaranya:
Hubungan relasi yang baik

Saat bekerja di perusahaan milik orang lain, satu hal yang harus dijaga adalah perangai dna sikap. Keharusan menjadi orang 'baik' kerap membuat para karyawan bertingkah laku seperti yang diinginkan atasan.

Pura-pura semacam itu tak sedikit mengakibatkan lingkungan yang tidak sehat. Berbeda saat membangun bisnis sendiri. Wirausahawan akan cenderung memilih partner kerja yang memiliki visi sama agar tak terjadi bentrok sehingga tak perlu juga berpura-pura.

Keuntungan lebih banyak

Tak mudah menjadi seorang wirausahawan. Saat memulai bisnis baru, beban yang terasa akan lebih berat daripada saat Anda bekerja di perusahaan orang lain dengan manajemen yang sudah terbangun.

Dalam buku yang ditulis Dan Miller, No More Dreaded Mondays, ia membahas betapa kesempatan menjadi orang berpenghasilan besar justru datang dari mereka yang berwirausaha. Sayangnya, karena mempertimbangkan risiko, banyak orang tak mau mengambil peluang ini.

Lebih banyak pelanggan

Steve Jobs populer dengan keyboard dan mouse nirkabelnya sejak 2003, sementara banyak perusahaan teknologi sedang gencar-gencarnya memasarkan keyboard dan mouse dengan kabel.
Begitu juga Pablo Picasso, seniman yang berani membuat karya dengan banyak sudut pandang di saat banyak orang justru membuat satu sudut pandang.

Nyatanya, perbedaan itulah yang membuat keduanya dikenal dan disukai banyak pelanggan loyal. Keberanian mereka keluar dari pasar massal membuatnya mendapatkan pasar baru.

Adaptasi lebih cepat

Pernahkah Anda terlibat dalam rapat yang dikuti 10 orang atau lebih dan mendapatkan kesepakatan dengan cepat? Itu sangatlah tidak mungkin.

Penulis dan pembicara asal Amerika Susan Cain menyatakan dalam artikel yang ditayangkan New york times, "The Rise of the New Groupthink" bahwa performa individual akan lebih baik secara kualitas dan kuantitas dibandingkan performa grup. Itu artinya, kemampuan adaptasi perorangan akan lebih cepat dibandingkan grup sehingga wirausahawan tak perlu takut mencari rekan bisnis saat tak punya satu mitra pun.

Lebih banyak respek

Sebagai pengusaha, sekecil apapun lingkupnya, Anda adalah seorang bos. Dengan demikian, Anda akan menuai lebih banyak respek dibanding saat menjadi karyawan dahulu.

Rasa hormat bisa didapatkan saat Anda berani menerima tantangan dan membuat keputusan bisnis. Ingatlah, saat menjadi wirausahawan, nasib bisnis berada di tangan Anda sendiri. Anda leluasa mengambil tindakan termasuk mencari partner dan memakai tools yang tepat.

Saat berbisnis online, misalnya, seorang wirausahawan dengan modal terbatas akan mengoptimalkan pemasaran melalui media yang tak membutuhkan biaya yang banyak. Selain lewat media sosial, mereka bisa memakai situs belanja seperti Bukalapak.com untuk memasarkan produk jualannya.
Pemilihan media pemasaran ini haruslah tepat. Ingat, keputusan sekecil apapun akan mempengaruhi bisnis yang tengah dibangun. (Triblamp)

Bisnis Hobby - Gibran Rakabuming Raka, putra pertama dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih memilih untuk menjalankan roda bisnis katering daripada meneruskan usaha mebel dari ayahnya. Memulai usaha ini, bukan semudah membalikkan tangan. Gibran sempat ditolak tiga kali oleh bank saat mengajukan kredit untuk permodalan.

Gibran menuturkan, sejak awal ia memang tidak mau untuk meneruskan usaha mebel yang telah digeluti oleh keluarga besarnya. Ia lebih memilih untuk menekuni usaha katering selepas kuliah S-1 Management Development University of Singapura. Padahal oleh keluarga besarnya, ia diharapkan meneruskan bisnis permebelan itu.

"Dari awal memang tidak mau meneruskan usaha itu. Sebenarnya ingin usaha sejak lulus dari D-3 di Australia. Tapi karena ilmunya masih kurang, jadi lanjut S-1 dulu di Singapura, " ujarnya seoerti dilansir 
Liputan6.com Kamis (3/12/2015). 

Ihwal pemilihan usaha katering tak terlepas dari pemikiran Gibran saat itu yang merasakan gedung pertemuan keluarganya Graha Sabha Buana hanya disewakan. Padahal menurutnya, justru pemasukan terbesarnya ada pada suplai kateringnya.

"Sebagian besar hanya menyewa gedung saja, sedangkan katering mengambil dari luar. Saat itu banyak kegiatan seeperti nikahan dan wisuda hingga pertemuan dilakukan di gedung ini. Untuk itu lalu saya terpikir untuk membuka usaha katering sehingga biar menjadi satu paket antara sewa gedung dengan katering," ucapnya.

Meski ayahnya yang saat itu masih menjabat Walikota Solo, Gibran lebih memilih untuk usaha sendiri dalam mencari modal dengan mengajukan kredit kepada beberapa bank. Ia pernah beberapa kali ditolak bank.

"Ada sekitar tiga sampai empat bank yang menolak pengajuan kredit. Tapi akhirnya ada yang memberi pinjaman. Waktu itu ada pinjaman Rp 700 juta, " jelas suami dari Selvi Ananda tersebut.

Lantas uang Rp 700 juta itu pun dibelikannya perkakas untuk usaha katering. Mulai dari piring, gelas hingga perkakas untuk memasak. "Hingga saat ini, masih kredit. Dana kredit itu untuk memajukan usaha, " ucapnya.

Pengalaman pahit di tahun pertama harus dirasakan Gibran saat merintis bisnis ini. Pasalnya, ia hanya menerima orderan katering hanya dalam skala kecil. Misal untuk rapat, pertemuan dan wisuda.

"Awal tahun pertama itu benar-benar menjadi ujian bagi Chilli Pari. Karena masih banyak yang belum percaya pada kita. Jadi kebanyakan masih order dalam skala kecil. Kalau order catering pernikahan malah jarang. Padahal order katering pernikahan ini yang banyak untungnya, " urainya.
Sebagai pemain baru dalam bisnis ini, Gibran mengaku secara otodidak dalam mempelajarinya. Bermodal kesenangannya jelajah kuliner, ia kerap melakukan test food,trial and error. "Untuk promosi ya kita gencar mengikuti bazar dan pasang baliho, " tuturnya.

Meski sang ayah saat itu menjabat kepala daerah, Gibran mengaku tak terlalu berpengaruh. Pasalnya katering ini berhubungan dengan rasa enak.

"Tidak ada hubungannya. Kalau catering itu hubungannya dengan rasa. Semisal, ada yang dulu milih bapak kemudian membutuhkan cateringnya tetapi ternyata jenis makanan di Chilli Pari tidak cocok, apa ya harus milih Chilli Pari. Kan tidak?" ungkapnya.

Kini setelah melalui masa sulit, Chilli Pari pun berkembang. Order katering pernikahannya pun semakin banyak. Bahkan catering miliknya sudah dipesan hingga luar Kota Solo. "Ada beberapa pesanan dari luar Solo. Misal Jogja, Ngawi, Pacitan, Madiun, Yogyakarta dan Semarang, " tutur dia.

Hingga saat ini, Chili Pari memiliki 20 karyawan dan ratusan 
freelance. Sebanyak 20 karyawan itu untuk tenaga marketing, keuangan dan chef. "Kalau freelance biasanya dari tetangga sekitar dan pemuda karang taruna, " kata dia.(L6)

Bisnis Hobby - Salah satu hambatan meraih kesuksesan dalam berbisnis adalah kemampuan menjual yang lemah.

Lebih parah lagi, ada juga yang mengakui bahwa dirinya tidak suka jika harus menawarkan barang secara langsung. Padahal kemampuan menjual dan menceritakan keunggulan produk berperan vital dalam memajukan bisnis.


Geoffrey James penulis kolom di situs Inc.com mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan banyak orang tidak suka kata "sales" atau berjualan. Anggapan bahwa sales adalah manipulatif, mengganggu dan membosankan telah menjadi perangkap dalam pikiran sehingga mereka menghindari proses ini.

Manipulatif karena sering melebih-lebihkan keunggulan produk, mengganggu karena sering menghubungi orang pada saat yang tidak tepat, dan membosankan karena sering mendapat jawaban, "Nanti saya hubungi lagi,' sehingga harus menunggu dan menunggu. Jika ketiga anggapan ini masih tersimpan kuat di benak Anda, masih ada cara untuk mengubahnya. Caranya dengan mengubah persepi menjadi:

Sesungguhnya menjual adalah membantu orang lain. Jika Anda menyadari bahwa Anda hanya menjual produk kepada orang yang membutuhkan, maka Anda akan fokus pada satu hal: membantu orang lain mengatasi masalahnya. Pada kebanyakan kasus, menjual juga berarti membuat orang lain bahagia melalui produk yang kita miliki. Apakah hal itu manipulatif?

Menjual juga merupakan aktivitas sosial. Jika Anda memutuskan tidak ingin meganggu orang lain - dalam hal ini pelanggan prospektif Anda - Anda dapat menganggap bahwa proses berjualan juga merupakan proses mendapat kenalan baru dan berbicara tentang hal yang menarik bagi Anda dan mereka. Menyenangkan bagi Anda dan orang lain, kan? 

Menjual juga merupakan aktivitas belajar. Jika Anda memutuskan untuk belajar dari berbagai hal yang terjadi dalam proses menjual, maka hal ini akan menjadi semakin menarik. Galilah pelajaran dari banyak pengalaman Anda dan orang lain, sehingga menjual tidak pernah membosankan bagi Anda.

Nah, jika Anda dapat mengalahkan persepsi lama dengan tiga jurus baru ini, maka bisnis Anda bisa lebih pesat. (Sumber: Inc.com)

Bisnis Hobby - Dua mahasiswa iseng-iseng mengangkut sampah untuk mendapat uang jajan – namun  mereka justru berhasil membangun kerajaan bisnis. 

Ada teriakan khas para orang tua yang biasa didengar di hari kedua libur kuliah: “Kerja, dong!” Ibunda Omar Soliman termasuk di antaranya. Ia tak ingin melihat anaknya hanya berenang saja sepanjang musim panas. “Harus ada yang kau kerjakan,” ia menyuruh anaknya.  

Di tempat tinggalnya, Washington DC, teman-teman Soliman kebanyakan magang di tempat-tempat yang bergengsi. Tapi Soliman menyukai pesta. Tak terbayang di benaknya dia harus duduk di belakang meja sepanjang hari. Tapi dari pengalamannya selama bertahun-tahun membantu mengantarkan furnitur milik toko mebel ibunya, ia ingat banyak orang yang ingin membuang furnitur lama mereka. Kalau ia meminjam mobil van milik ibunya, tentu ia bisa mendapatkan uang untuk berfoya-foya dengan menawarkan jasa membuang furnitur lama tersebut. 

Malam itu, Soliman menemukan nama untuk bisnisnya sendiri: College Hunks Hauling Junk. Keesokan harinya, dia menyebar flyer, dan hanya dalam hitungan jam, teleponnya berdering. Dia meminta bantuan sahabatnya, Nick Friedman. Setelah tiga jam membersihkan barang-barang tak terpakai di garasi milik seorang wanita, mereka mendapatkan 220 dolar AS. 

Soliman dan Friedman mengantungi 10.000 dolar AS pada musim panas itu. Dan sekarang, hanya dalam waktu 4 tahun, bisnis mereka menjadi perusahaan nasional yang meraup untung 3 juta dolar AS pada 2008. College Hunks mempekerjakan 130 orang dan mempunyai 16 waralaba di 10 negara bagian dan Washington DC. Mereka mengangkut apa saja, mulai dari sofa rombeng sampai komputer kuno, dan menargetkan bisa mengembangkan 80 waralaba di 2012 nanti. “Orang-orang sangat senang dengan ide pengangkutan sampah yang dilakukan anak-anak muda yang bersih dan ramah,” kata Friedman.  

Namun keduanya belum siap menjadi tukang sampah penuh waktu setelah lulus kuliah. “Kami harus menyelesaikan kuliah dan mencari pekerjaan yang bagus,” kata Soliman yang kemudian bekerja sebagai tenaga pemasaran untuk sebuah lembaga riset. Sementara Friedman menjadi analis ekonomi untuk sebuah lembaga konsultan. Dalam beberapa bulan, kata Friedman, “Kami merasa kurang senang. Aku mengirim e-mail ke Omar: 'Kapan nih saat yang tepat untuk mulai berbisnis?' Dia menjawab: 'Sekarang.'” 

Mereka lalu keluar dari pekerjaan, tapi sulit menemukan bank yang mau memberi kredit. “Kami dinilai tidak layak mendapatkan kredit,” ujar Soliman. Setelah lima kali ditolak, akhirnya sebuah bank memberikan pinjaman 50.000 dolar AS. Mereka lalu menambahkan dengan 60.000 dolar AS dari orang tua dan tabungan mereka sendiri. Tak menunggu lama, mereka membeli sebuah truk, menyewa seniman grafis untuk mendesain logo, memuat iklan di koran dan radio, dan merekrut tenaga angkut dari kampus-kampus. Mengenakan seragam baru — kaos polo berwarna hijau dan khaki — mereka menggelar presentasi di pameran-pameran lokal, kantor-kantor kamar dagang dan real estat. 

“Pada awalnya, uang kami menyusut terus,” aku Friedman, “sebab kami mematok harga terlampau rendah.” Seorang pelanggan membayar mereka untuk membuang selusin tong sampah berisi puing-puing bangunan. Bukannya menghitung tarif berdasarkan berat barang-barang tersebut, mereka justru menghitung berdasarkan volume dan mematok harga hanya 130 dolar AS. “Barang-barang itu sangat berat, sehingga kami butuh waktu dua setengah jam untuk mengerjakannya,” kata Soliman. “Dan kami harus mengeluarkan 250 dolar AS untuk membuang muatan itu.”

Namun pengalaman mereka dengan tangan-tangan kekarnya mengajari tentang apa yang harus — dan tidak harus — dikerjakan. Untuk meringankan biaya sewa lahan pembuangan, mereka mendaur ulang logam dan barang elektronik, lalu menyumbangkan lebih dari 60 persen dari apa yang mereka dapatkan. Mereka menyewa tenaga konsultan untuk membantu mengembangkan waralaba berskala nasional, membeli nomor bebas pulsa, membuat situs (1800junkusa.com), dan mendirkan pusat informasi di Maryland. Tahun lalu, mereka memindahkannya ke Tampa, yang ongkos sewanya lebih murah. 

Sekarang, Soliman, 26, menjadi seorang perencana, dan Friedman, 27, menjadi tukang bongkar. Mereka membeli sebuah buku yang mendorong sepasang wiraswasta muda itu untuk berani mengambil risiko. “Aku tidak ngeh kalau aku adalah wiraswastawan sampai aku mulai menyetir mobil van,” aku Soliman. “Begitu juga Nick. Aku baru tahu kalau aku ingin melakukan sesuatu sendiri. Bagi kami, apabila gagal, lebih baik kami mencoba bangkit dari kegagalan itu daripada tidak mencoba sama sekali.(Rd)

Bisnis Hobby - Banyak uang memang tak menjamin Anda dapat mengelola keuangan dengan baik. Tetapi, banyak uang dapat membuat Anda lebih leluasa mengatur keuangan. Itu sebabnya, saat penghasilan bulanan Anda tak lagi mampu menutupi segala kebutuhan Anda dan keluarga, maka mencari penghasilan tambahan adalah suatu keharusan. 

Simak lima cara mendapatkan penghasilan tambahan, berkut ini:

Online. Kalau di kantor Anda dapat mengakses internet, tidak ada salahnya untuk membuka usaha tokoonline. Untuk awalnya, cukup dengan barang-barang bekas yang Anda atau teman-teman sekantor miliki, misalnya sunglasses, pakaian, tas, aksesori dan sebagainya. Di luar sana ada, lho, penggemar busana seken yang unik dan nyentrik. Yang harus Anda ingat adalah “toko” Anda harus punya nama yang mudah diingat serta distinctive alias beda dengan yang sudah ada. Kedua, kalau produk fashion yang Anda jual, pastikan Anda memiliki ukuran yang standar. Ketiga, foto sedetilnya dan ungkapkan kekurangan barang yang hendak dijual. Kejujuran Anda akan berbuah manis di bisnis online. Terakhir, alokasikan penghasilan Anda untuk kelak jika Anda harus berburu dan membeli stok barang buat toko, karena barang-barang pribadi Anda dan teman sudah habis terjual. 

Hobi. Banyak yang menyebut usaha yang melibatkan atau berasal dari hobi sebagai weekend company, alias perusahaan yang dijalankan hanya pada saat akhir pekan. Maksudnya, Anda baru bisa mengerjakan pekerjaan yang diminta klien pada akhir pekan. Apakah hari lain Anda ongkang-ongkang kaki? Tentu tidak, karena Anda harus tetap melakukan promosi dan pemasaran bisnis Anda. Misalnya, dengan memiliki situs sebagai show case online produk Anda , dan sebagainya.

Network. Punya teman banyak ternyata juga modal untuk mendapatkan penghasilann tambahan. Itu sebabnya panting bagi Anda untuk mempunyai kemampuan yang spesifik di suatu bidang, lalu “umumkanlah” ke seluruh teman Anda. Atau, setidaknya, kalau Anda tidak mampu menyediakan jasa atau barang yang dicari, Anda dapat berlaku sebagai middle man/women alias makelar, dan menikmati persentase keuntungan dari kesepakatan yang disepakati. Anda juga bisa berbisnis MLM atau Multi Level Marketing bila memiliki banyak teman. Yang perlu diwaspadai, Anda harus memilih perusahaan MLM yang benar, bukannya yang bermodel money game atau skema ponzi seperti arisan berantai dan sebagainya. Yang harus benar-benar Anda camkan, jangan sampai gara-gara uang, persahabatan bubar.

Bisnis riil. Kalau penghasilan tambahan di atas didapatkan hanya sesekali, dengan memilik bisnis riil Anda dapat memperoleh penghasilan tambahan yang lebih stabil. Membuka jasa foto kopi, warung kelontong, bahkan restoran, dapat Anda lakukan. Jadi, sambil Anda bekerja, mesin uang lain milik Anda tetap bekerja. Tentunya Anda harus pandai-pandai berstrategi agar bisnis riil Anda tidak merugi. Pemilihan jenis bisnis, lokasi, karyawan, sampai fungsi kontrol harus Anda benar-benar perhatikan. 

Agen asuransi. Profesi agen asuransi ternyata dapat dijalankan bagi mereka yang masih bekerja di kantor lain. Yang seru, produk asuransi seakarang ini beragam dan semakin terjangkau, sehingga pasar Anda menjadi sangat luas dan hampir tak terbatas. Lagi pula, jumlah agen asuransi dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat jomplang perbandingannya. Berarti selalu ada kesempatan bagi Anda. Kombinasikan dengan aset Anda berupa network, niscaya Anda akan sukses meraih penghasilan tambahan sebagai agen asuransi. (Rd)
Diberdayakan oleh Blogger.