[ads-post]

 Meski memiliki keunggulan komparatif, seperti keanekaragaman spesies dan sumber daya alam yang berlimpah, bisnis ikan hias Indonesia tidak memiliki kinerja yang sepadan, khususnya ekspor ke luar negeri.
Indonesia bahkan kalah dibandingkan Singapura yang menguasai pangsa pasar ikan hias 22,8 persen, dan Malaysia di posisi kedua dengan pangsa pasar 7,9 persen. Indonesia hanya di posisi ketiga dengan pangsa pasar 7,5 persen.
Ekspor ikan hias diwarnai fenomena sbb:
• Indonesia memiliki kekayaan jenis dan jumlah ikan hias, tetapi negara lain cenderung menikmati nilai tambah produk dari Indonesia.
• Singapura sebagai eksportir ikan hias terbesar dunia memetik manfaat sebagai pengumpul ikan hias asal Malaysia, Thailand, dan Indonesia untuk dipasok ke pasar dunia.
• Singapura memiliki fasilitas penerbangan dan pelabuhan yang memadai untuk melakukan pengiriman langsung ke negara tujuan.

Pasar Ikan Hias Tak Pernah Jenuh

Jakarta, Kompas - Indonesia memiliki tidak kurang dari 3.500 spesies ikan hias air tawar yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Pasar ikan hias juga tidak pernah jenuh.
Selain keanekaragaman spesies, ikan hias memiliki keunggulan komparatif jika dijalankan sebagai kegiatan usaha yang digarap secara serius.

”Usaha ini tidak memerlukan modal banyak, bisa dilakukan industri rumah tangga, pasarnya tidak jenuh, inovasi pengembangan strain bisa dilakukan secara individual,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Martani Huseini, pada pembukaan Indonesia Fishery and Seafood Expo, Indonesia Ornamental Fish Show 2008, dan Jakarta Seafood Expo di Jakarta, Kamis (30/10).

Sayangnya, lanjut Freddy, berbagai keunggulan komparatif tersebut belum sebanding dengan kinerja ekspor ikan hias Indonesia di pasar internasional.

Tahun 2006, Indonesia menempati peringkat ketiga eksportir ikan hias dunia dengan pangsa pasar 7,5 persen. Posisi Indonesia masih berada di bawah Singapura dengan pangsa pasar 22,8 persen dan Malaysia dengan pangsa pasar 7,9 persen.

Total nilai ekspor ikan hias Indonesia tahun lalu sebesar 8,17 juta dollar AS atau turun dibandingkan dengan tahun 2006 yang sebesar 13,8 juta dollar AS.

Beberapa spesies ikan hias air tawar asli Indonesia sebenarnya memiliki tempat khusus di pasar internasional, seperti arwana (Schleropages formosus) jenis super red, ikan cupang (Beta splendens), dan botia (Botia macracantha).

Menurut Freddy, Indonesia juga telah lama sukses mengembangkan spesies ikan hias asal negara lain yang telah didomestikasi, seperti ikan koi (Cyprinus carpio) dan mas koki (Carrasius auratus).
Singapura memetik manfaat

Martani menambahkan, produk unggulan hasil kelautan dan perikanan hingga kini belum banyak terungkap secara luas. Padahal, pemberdayaan hasil kelautan dan perikanan dapat menjadi penopang perekonomian di tengah krisis keuangan global.

Martani mengemukakan, sektor perikanan akan didorong menjadi alternatif bahan pangan dan sumber pertumbuhan ekonomi melalui pertumbuhan investasi dan pemasaran hasil perikanan untuk pasar dalam negeri dan internasional.

Berdasarkan data DKP, luas perairan umum, meliputi sungai dan danau, yang berpotensi dikembangkan untuk budidaya mencapai 14 juta hektar.

Sementara potensi perairan laut untuk usaha budidaya mencapai 8,7 juta hektar dengan produksi 47 juta ton per tahun. Akan tetapi, potensi budidaya perairan laut yang tergarap baru sekitar 10 persen.
Secretary General Ornamental Fish International Alex Ploeg yang hadir dalam pameran itu mengemukakan, Indonesia memiliki kekayaan jenis dan jumlah ikan hias, tetapi negara lain cenderung menikmati nilai tambah produk dari Indonesia.

Ia memberi contoh, Singapura sebagai eksportir ikan hias terbesar dunia memetik manfaat sebagai pengumpul ikan hias asal Malaysia, Thailand, dan Indonesia untuk dipasok ke pasar dunia.
Penyebabnya, Singapura memiliki fasilitas penerbangan dan pelabuhan yang memadai untuk melakukan pengiriman langsung ke negara tujuan.

Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo) Yohanes Kitono mengakui, produk perikanan yang dipasarkan membutuhkan jaminan keamanan produk dan higienis. Gappindo siap menerima inspeksi, monitor, dan pengawasan terhadap produk perikanan yang dihasilkan.

Direktur Bina Pasar dan Distribusi Departemen Perdagangan Jimmy Bella mengatakan, krisis keuangan global akan berdampak pada penurunan daya beli di pasar ekspor.(Kompas)

Posting Komentar

  1. Anonim3:06 PM

    Sya sedang kesulitan mencari jalur ekspor ikan hias air tawar - mugkin ada pihak terkait yang bisa membantu saya? kita punya 20 jenis spesies ikan hias air tawar siap untuk ekspor

    Eki Kurnia
    Duren Sawit, Jkt 13440
    phone:021-8620366
    mobile: 089635615203

    BalasHapus
  2. Hallo Bung Eki

    anda mungkin bisa kirim email ke kenajoe@gmail.com tentang spesies ikan yang anda miliki

    BalasHapus
  3. mantap...
    boleh kunjungi blog saya juga ...
    http://www.sionpc.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Salam kenal sblm na,
    kebetulan saya juga sedang menrintis usaha ikan hias, semoga kita bisa bekerjasama.

    BalasHapus
  5. saya baru mulai usaha ikan hias sebagai hobby di kampung saya bukittinggi. Tapi saya tinggal di Canada dan sudah mencari pasaran disana. (saat ini saya lagi di Bukittinggi). Persaingan dengan cina dan singapore berat. Kendala kita yg dari indonesia adalah ongkos kirim. Mari kita kerja sama agar bisa menekan ongkos kirim keluar negri. kalau jumlah export cukup tinggi dan bermacam2 product, kita aan bisa lebih success. email saya: belgra78@telus.net

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.