Pasangan
suami isteri ini memiliki dua toko online di Internet yaitu Roy Rose
Jewelry yang menjual beragam jenis perhiasan
yang sudah lebih dulu dibangun oleh sang suami, dan the Match
and Hatch Store yang resmi berjalan bulan Juni 2015.
Toko online yang ke-2 ini menjual berbagai pernak-pernik untuk pesta pernikahan
dan perlengkapan bayi.
“Yang namanya
bayi kan lahir setiap hari, kenapa nggak kita coba untuk bisnis ini saja? Dan
kenapa wedding? Karena kita melihat penjualan kami untuk pernak-pernik wedding itu sangat banyak sekali dan akhirnya
kita memutuskan untuk itu,” papar Krissant Saraswati Howell yang akrab disapa
Kriss ini kepada VOA Indonesia belum lama ini.
Kriss
menyadari memang tidak setiap waktu para pelanggannya mencari barang-barang
pernikahan, karena di AS biasanya ada bulan-bulan tertentu yang dipilih oleh
warga lokal untuk menikah.
“Desember,
Juni, Juli. Itu bulan yang sangat sibuk untuk wedding ya,” papar perempuan yang hobi
membaca, jalan-jalan, dan olah raga ini.
Menurut
Kriss, dengan membuka toko online ia bisa memberikan kenyamanan bagi para
pelanggannya yang ingin membeli barang tanpa harus keluar rumah. Tidak hanya
itu, melalui toko onlinenya, ia bisa menjangkau para pelanggan yang berasal
dari berbagai penjuru.
Harga
barang-barang yang dijual melalui dua toko online miliknya ini juga beragam. Ia
dan suami berusaha untuk menjual barang-barang yang dapat dijangkau oleh para
pelanggan dengan tingkat penghasilan yang berbeda-beda.
Barang-barang
yang dijual di Match and Hatch Store seperti taplak meja, buku tamu, tas
perlengkapan bayi, dan album foto, semuanya berharga sekitar 154 ribu rupiah ke
atas. Sedangkan untuk perhiasan di Roy Rose Jewelry, harga berkisar antara 280
ribu rupiah hingga 70 juta rupiah.
Untuk
mempromosikan bisnisnya, Kriss menggunakan media sosial, seperti Facebook dan
Instagram. Tidak lupa juga, ia dan suami aktif bergabung di berbagai organisasi
yang berhubungan dengan bisnis online.
“Jadi tidak
saja media sosial, tetapi juga lewatcommunity
business yang ada di sini juga,” ujar Kriss.
Sekecil apa
pun usaha yang dimiliki di AS, seorang pengusaha tetap harus mendaftarkan
bisnisnya kepada pemerintah.
“Setiap
proses untuk membuka sebuah online bisnis tetap harus ada perijinannya, karena
itu kan nanti berhubungan dengan pajak,” jelas perempuan yang juga sempat
mengajar les bahasa inggris privat di Semarang ini.
Selain itu Kriss
juga menjual beberapa barang tokonya di berbagai ritel online lainnya seperti
e-bay dan Amazon.
Mengenai
berbisnis dengan suami, Kriss merasa lebih senang, karena tingkat
kepercayaannya menjadi lebih tinggi. Namun, ia dan suami selalu berusaha untuk selalu
membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga.
“Kami
memisahkan antara rumah tangga dengan bisnis. Jadi ketika jam kerja, kita
bicara masalah bisnis, tapi setelah jam kerja ya sudah kita lepas masalah
bisnis,” jelas perempuan yang menetap di AS sejak tahun 2015 ini.
Masalah
pekerjaan juga selalu dibahas secara profesional. Mereka melakukan pertemuan
setiap minggu untuk membahas bisnis mereka.
“Kami berdua meeting tiap hari senin, kemudian kita
diskusikan tentang strategi bisnis dan sebagainya,” kata Kriss.
Kini, Kriss
dan suami sudah memiliki satu karyawan yang membantu mereka untuk melayani
pelanggan. Untuk ke depannya, mereka berencana untuk terus mempromosikan bisnisnya
dan meningkatkan kualitas barang yang mereka jual.
“Kualitas
yang kita punya sudah good quality, tapi kita akan mencari yangbest quality,” ujar penggemar masakan tempe penyet ini.
Selain itu
untuk jangka panjang, Kriss juga berencana untuk menjual produk Indonesia
melalui toko onlinenya, seperti baju batik dan taplak.
"Rencana
sih ada. Tapi inginnya bikin desain sendiri. Mau coba-coba bikin sesuatu yang
bisa dipakai. Kalau sesuai dengan pangsa pasar baru mass product," jelas Kriss.
Kepada
teman-teman yang ingin membangun bisnis online seperti dirinya, Kriss berpesan
untuk berusaha mencari produk yang unik dan sesuai dengan pangsa pasar. (voa)

Posting Komentar