Bisnis Hobby - Hari Rabu, 1 Januari 1996, seorang pemuda lajang
menikmati liburan tahun baru di gunung Galunggung. Tuhan menakdirkan Kosim
melewati Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaratu, Tasikmalaya dan langsung terpikat
bukan dengan gadis setempat tapi dengan potensi wilayahnya, “Ini cocok untuk
tanaman holtikultura,” batin sang insinyur pertanian alumnus Universitas
Winayamukti (UNWIN), Tanjung Sari, Sumedang.
Pemuda asal Subang kelahiran 5 Agustus 1968 itu
membuat keputusan berani bermukim di daerah terpencil. Kenapa disebut berani?
Karena setamat kuliah tahun 1993, ia sudah bekerja di perusahaan Taiwan,
memulai karir dari sales hingga berhasil menjadi manager. Dan ia
lepaskan posisi nyaman hanya untuk menjadi petani.
Pilihan Rasional
Ini bukan pilihan gila, melainkan keputusan dengan
pertimbangan rasional. Sebelumnya Kosim sudah bertanam cabe di Bogor dengan 70
orang karyawan. Tapi karena kualitas lahan dan faktor cuaca, hasilnya belum
memuaskan. Dia pun merasa kurang puas, toh usaha itu milik orang Taiwan, tentu
beda sensasinya kalau milik sendiri.
Kosim tinggal di kamar kontrakan dan menyewa lahan
untuk mulai bertanam cabe di kampung Sukajaya, Desa Sukamaju, Kecamatan
Sukaratu. Resmilah Kosim menjadi orang pertama yang mengenalkan pertanian cabe
di Sukaratu, yang terbiasa cuma bertanam padi. Masyarakat setempat menyambut
baik dan memberikan dukungan. Apalagi Kosim mempekerjakan sekitar 30 orang
warga sekitar.
Hebatnya, dari langkah awal di tahun 1996 itu, ia
langsung meraup untung. Dengan modal pertama 6 juta rupiah dapat menghasilkan
laba 13 juta rupiah. Kosim yakin pilihannya tidak keliru dan semakin percaya
setelah jurusan pertanahan Universitas Padjajaran meneliti dan menyimpulkan
tanah di daerah Sukaratu memang subur.
Sejak itu Kosim semakin bersemangat membuka lahan
pertanian cabe. Dia tidak mau sukses sendiri, masyarakat setempat juga diajak
dan dibimbing bertani hingga turut merasakan rezeki dari pedasnya harga cabe.
Ibarat sulap saja, pertanian cabe terus berkembang pesat di daerah Sukaratu.
Tampaknya Kosim bukan saja berjodoh dengan cabe,
malahan daerah Sukaratu juga memberi ratu untuk hatinya. Saat Kosim asyik
bertanam cabe, seorang gadis ayu menemui ayahnya di kebun. Di sanalah Kosim
bertemu mata dengan Nia Warnia, dan hatinya langsung tertambat. Dasar jodoh,
dua bulan kemudian Kosim resmi menikahi kembang desa setempat, tepatnya 13
Desember 1996. Kini, Allah mengaruniai sepasang anak dari pernikahan mereka.
Kosim pun makin bersemangat melancarkan program Indonesia bercabe bersama
keluarga tercinta.
Menikmati Kendala
“Kendala sih ada, seperti serangan hama atau penyakit
tanaman. Itu tergantung kejelian kita memakai obat tanaman yang tepat waktu dan
tepat dosis, sehingga tanaman jadi sehat,” tuturnya.
Cobaan lain pun datang, saat krisis ekonomi
menghantam Indonesia tahun 1998, kekeringan melanda ladang cabe membuat panen
rusak, sebagian cabe yang terselamatkan juga bernasib malang, karena harganya
jatuh pula di pasaran. Tahun berikutnya 1999, lain lagi masalahnya, banjir
besar menerjang ladang yang membuat panen gagal.
“Saya dan istri tenang-tenang saja. Dijelaskan
Al-Qur’an, kita hanya wajib berusaha, Allah yang menentukan hasilnya.
Insyaallah saya akan dapat rezeki di lain waktu,” tuturnya. Di lain pihak,
Kosim juga punya strategi, “Saya punya persiapan untuk kondisi-kondisi buruk,
jadi tidak sampai jatuh bangkrut. Saya dapat bangkit lagi.”
Apapun halangannya, Kosim tetap bertanam cabe dan
terus menggalakkan program Indonesia bercabe. Masa-masa suram itu tidak pernah
berlangsung selamanya, buktinya dengan bertanam cabe taraf ekonomi masyarakat
menjadi naik. Dengan sendirinya semakin banyak warga yang berminat bertani
cabe.
Pada tahun 2006, PLN Jawa Barat memberinya pinjaman
lunak sebesar 25 juta rupiah. Kosim menunjukkan usaha yang baik dan lekas
berkembang, pihak PLN lantas mengganjarnya penghargaan sebagai Mitra Binaan
Teladan.
Dari ladangnya yang luas, Kosim mengirim berton-ton
cabe ke pasar tradisional hingga supermarket. Dia memasok cabe untuk
Tasikmalaya, Cirebon, Jakarta dan segera menyusul ke Lampung serta berbagai
daerah lainnya. Dari hasil cabe Kosim dapat menikah, menafkahi anak istri,
punya rumah, membeli mobil, memiliki lahan pertanian, dapat naik haji bersama
keluarga dan berbagai anugerah lainnya. Secara materi hasilnya jauh lebih
memuaskan daripada bekerja sebagai manager, tapi ia mensyukuri lebih
dari sekedar materi, yaitu dapat membuka lapangan kerja bagi banyak orang guna
mendapatkan rezeki halal lagi memuaskan.
Masa Depan Cabe
Apa sih pentingnya cabe? Tidak banyak orang tahu
bahwa pedasnya harga cabe berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi.
Apabila harga cabe melonjak, akan memperbesar angka inflasi sekaligus
menggoyahkan perekonomian. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi bagus, maka inflasi
harus rendah di antaranya dengan membuat harga cabe stabil. Pernah terjadi
harga cabe melambung gara-gara kekeringan dan gagal panen. Kasihan rakyat kecil
yang terpaksa puasa makan cabe, karena harganya mencapai 100 ribu rupiah/kg,
tidak adil bandingannya dengan harga daging yang hanya 60 ribu rupiah/kg atau
harga beras yang cuma 6 ribu rupiah/kg.
Disinilah kampanye Indonesia bercabe semakin penting,
“Jangan sampai kita impor cabe dari luar negeri!” katanya bergetar. Saat ini
bibit-bibit cabe sudah diimpor dari Jepang, Korea, Cina, India dan lainnya, dan
sedang ada upaya keras agar di masa mendatang tidak impor lagi. Usaha
menghentikan impor bibit cabe belum tentu berhasil, jangan sampai situasi kian
buruk dengan impor cabenya pula. Padahal apa sih yang kurang di Indonesia?
Lahannya luas, tanahnya subur dan tenaga kerja melimpah.
Sekarang ini, Ir. H. Kosim menjabat sebagai Ketua 1
Pokja Kluster cabe nasional yang merupakan binaan Bank Indonesia. Dengan
penjelasan inflasi di atas, akan mudah dipahami mengapa Bank Indonesia sampai
membentuk Pokja cabe. Kesempatan ini membuka peluang bagi Kosim menyumbang
pikiran dan tenaganya demi kepentingan yang lebih besar. “Ini kerja ibadah,”
ujarnya riang. Kosim semakin tersalur bakatnya berbagi ilmu dengan membina petani-petani
cabe. Jangan heran kalau di awal Ramadhan dia mulai berhitung-hitung kemungkinan
kelangkaan cabe saat lebaran karena beberapa daerah kekeringan, atau
kemungkinan naiknya harga cabe setelah lebaran jika tidak digalakkan penanaman
dari sekarang.
Kosim pun rajin mempromosikan manfaat cabe, “Dengan
makan pedas, orang menjadi sehat. Orang yang flu, jadi sembuh dan segar kembali
karena cabe.” Bukankah berbagai bangsa datang menjajah Indonesia karena tergoda
dengan rempah-rempah, termasuk cabe, karena dibutuhkan untuk daya tahan tubuh
terutama di musim dingin. “Kalau manisnya gula sudah ada penggantinya sakarin,
pedasnya cabe belum tergantikan oleh zat sintetik apapun,” tegasnya.
Gerakan Indonesia bercabe ini tidak mengharuskan
setiap orang membuka pertanian yang luas. “Bagusnya tiap rumah ada dapur hidup,
setidaknya bertanam cabe di pot-pot yang dapat dipakai kebutuhan sendiri.
Lebih bagus lagi dilengkapi dengan tanaman jahe, rawit dan holtikultura
lainnya,” sarannya.
Terus Optimis
Ia memandang kelemahan petani cabe selama ini
mengandalkan kepandaian yang diwariskan turun-temurun. Wawasan mereka memang
perlu dikembangkan. Karena dengan teknologi pertanian hasilnya akan lebih
berlipatganda. Sayangnya, banyak sarjana pertanian yang tidak mau bertani, maunya
berdasi. Padahal bertani tidak harus terjun ke lumpur, tapi membuka lapangan
kerja dengan hasil memuaskan bagi orang banyak.
Baginya, makin banyak petani cabe malah makin bagus,
inflasi dikendalikan, pengangguran berkurang, ekonomi kuat. Tidak perlu
khawatir banyak petani membuat sengit persaingan karena kebutuhan terhadap cabe
terus meningkat. Cabe sudah menjadi kebutuhan mendasar orang-orang Indonesia.
“Menanam cabe itu tidaklah sulit, asalkan terbiasa
saja. Saya pernah punya anak buah yang dengan cepat mandiri. Dia malah mampu
bertani dan memasarkan sendiri,” jelasnya.
Selama ini orang dicekam ketakutan soal sulitnya
pemasaran. Sebetulnya lucu juga sebab kemana pun menolehkan kepala akan bertemu
orang yang butuh cabe. Kosim menerangkan, “Tahun 1997 saya mulai bertanam cabe
keriting, begitu panen malah tidak laku di Tasikmalaya. Mereka terbiasa dengan
cabe besar. Saya jual cabe keriting itu ke pasar Kramat Jati, Jakarta, langsung
laku. Pasar cabe itu selalu ada! Toh, orang tak akan berhenti makan cabe.”
Sebagai sambilan, Kosim merambah ke peternakan ikan
gurame. Semula hanya iseng-iseng, sekedar hobi melepas lelah. Tetapi malah
peternakan guramenya berkembang pesat dan turut menyumbangkan penghasilan
memuaskan. Kini, di sekitar rumahnya dikepung oleh hamparan kolam-kolam ikan.
Selain gurame yang dijual ke Subang, Garut, Bogor, Cirebon dan lainnya, ia juga
merawat ikan-ikan hias. Bukan saja manfaat berupa uang, peternakan ikannya juga
menolong orang lain. Seorang teman yang stres disarankan dokter refreshing
pikiran, dia malah jadi terhibur dengan memberi makan ikan di kolam Kosim.
Tentunya orang-orang akan semakin segar, setelah menikmati sop gurame khas
Kosim yang gurih alami. Tampaknya pria itu perlu berencana membuka restoran sop
gurame ke depannya.
Peternakan ikan gurame itulah salah satu penyegar
hati, khususnya dalam menghadapi berbagai masalah demi menyukseskan gerakan
Indonesia bercabe. Karena berbagai persoalan memang silih berganti, terutama
menghadapi orang-orang yang berlaku curang. Ada yang sudah dikirimi cabe, eh
malah menunggak pembayaran sampai 33 juta rupiah. Untungnya, ia masih mau
menyicil. Tapi ada juga yang menghilang begitu saja, tidak mau bayar sama
sekali. Ada juga kisah lucunya, beberapa orang yang mengambil barang tidak punya
uang yang cukup, lalu menyerahkan BPKB sepeda motor sebagai jaminan. Anehnya,
sampai sekarang BPKB itu tidak diambil hingga Kosim terpaksa mengoleksi 5 BPKB
milik orang lain.
Pengalamanlah yang menguatkan orang. Apapun yang
terjadi Kosim tetap tertawa dan terus gencar mengusung gerakan Indonesia
bercabe. Itu caranya menyumbangkan sesuatu untuk rakyat dan bangsanya. (Yoli)


Posting Komentar