Perusahaan makanan cepat saji
raksasa ini ingin mengadopsi model bisnis baru di Asia, yang sekarang menjadi
medan pertempuran paling intens untuk rantai restoran global, dengan membawa
mitra dalam operasi waralaba ini. Beberapa operator restoran global lainnya
yang juga beralih ke model waralaba, dan McDonald pun menargetkan 95 persen
toko mereka akan menjadi waralaba.
McDonald sendiri telah menyewa
Morgan Stanley (MS.N) untuk menjalankan penjualan restoran di Cina, Hong Kong
dan Korea Selatan. Penjualan resminya akan kick-off pada dalam tiga sampai empat
minggu lagi.
Para mitra waralaba kemungkinan
akan berakhir memiliki saham mayoritas di restoran di setiap pasar atau mungkin
mencapai 100 persen. Namun, kesepakatan ini masih dapat berubah. Sebagai
imbalannya, McDonald akan mendapatkan pembayaran waralaba satu kali dan biaya
royalti yang biasanya berkisar antara 3-5 persen dari omzet tahunan.
Perusahaan ekuitas swasta pun
tertarik dengan peluang pertumbuhan quick-service restaurants (QSR) alias
restoran cepat saji di Asia.
"Dalam beberapa tahun
terakhir, meskipun makan mungkin telah dipengaruhi oleh langkah-langkah
penghematan, QSR masih berkembang cukup pesat," kata konsutan di Bain
& Co, Kiki Yang, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (14/4/2016).
"QSR memiliki format yang
memudahkan investor karena pertumbuhan segmentasi, standar prosedur yang mudah
untuk dikembangkan," lanjut dia.
Terlepas dari hasil penjualan,
kesepakatan ini akan menurunkan kebutuhan belanja modal McDonald, yang mencapai
USD2,6 juta tiap tahunnya.
McDonald telah berjuang di
Jepang selama dua tahun terakhir, menutup lebih dari 150 restoran tahun lalu,
renovasi hampir 3.000 outlet dan membukukan rugi bersih USD310 juta pada 2015.
(okz)

Posting Komentar