Andreas
Kurniawan, Consumer Marketing Strategy Division Head Bank OCBC NISP, bilang,
pihaknya sedang menunggu rekomendasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk
mengajukan diri sebagai penerbit e-money. "Rekomendasi ini nanti akan
menjadi jalan untuk mendapat izin dari Bank Indonesia (BI)," kata Andreas,
pekan lalu.
Rencana
ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan nebeng sistem alias co-branding
dengan e-money milik Bank Central Asia (BCA) pada pertengahan tahun ini.
Andreas mengatakan, e-money yang menggunakan platform Flazz BCA akan dirilis
pada Maret atau April 2016. Tahap pertama, e-money diterbitkan sebanyak jumlah
karyawan OCBC NISP yang mencapai 6.500 orang, sebagai uji coba sembari
mempersiapkan infrastruktur, semisal kantor cabang yang menyodorkan top up uang
elektronik.
Bank
Bukopin juga tengah memproses perizinan menjadi penerbit e-money. Menurut Adhi
Brahmatya, Direktur Pengembangan Bisnis dan TI Bukopin, proses pengajuan izin
ke BI sudah berlangsung sejak pertengahan tahun ini.
Rencananya,
uang elektronik yang akan dirilis bisa berfungsi sekaligus sebagai kartu debet.
"Soal launching, tunggu dari Bank Indonesia (BI). Tapi, kami sudah siap
sistem dan infrastruktur. Market yang akan kami sasar juga sudah ada,"
kata Adhi, Jumat (6/12).
Tak
mau ketinggalan, Bank Tabungan Negara (BTN) juga berhasrat berbisnis
e-money. Target awal, e-money BTN terbit November tahun ini. "Karena belum
turun izinnya dari BI, kami terus komunikasikan dengan BI karena sisi
persyaratan sudah lengkap," kata Sis Apik Wijayanto, Direktur Funding and
Distribution BTN.
Sebagai
pemain baru, BTN percaya diri bisa menjual 20.000 kartu e-money dengan mudah di
tahap perdana. Saat ini, jumlah e-money beredar mencapai 41,02 juta dari
sembilan bank penerbit.(kon/bh)

Posting Komentar