[ads-post]

Bisnis Hobby - Para pengusaha bioskop lokal yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) menolak usulan Badan Ekonomi Kreatif yang ingin membuka kepemilikan bisnis bioskop hingga 51% untuk asing.

"Kami menolak keras pembukaan (kepemilikan) bisnis bioskop hingga 51‎% untuk asing," tegas Ketua GPBSI, Djonny Syarifuddin, saat dihubungidetikFinance di Jakarta, Selasa (8/12/2015).

Djonny mengungkapkan, layar-layar bioskop lokal yang tidak tergabung dalam jaringan-jaringan bioskop besar seperti XXI, ‎Cinemaxx, atau Blitz bakal gulung tikar jika bisnis bioskop dibuka lebar untuk asing.


Sebab, bioskop-bioskop lokal baru saja bangkit setelah mati suri selama nyaris 2 dekade. Saat ini, sudah ada 100 layar bioskop non jaringan yang tergabung dalam Forum Bioskop Independen di berbagai kota dan kabupaten.

"Ada di Borobudur Mall di Semarang, ada di Cinema Gajah Mada di Tegal, di Banjarnegara, dan sebagainya," sebut Djonny.

Jika bioskop asing bermodal besar masuk ke kota-kota kecil, bioskop-bioskop lokal yang baru saja kembali tumbuh dan berkembang tersebut akan kalah bersaing.

"Kasihan sudah pontang-panting 3 tahun menghidupkan kembali bioskop independen. Kalau asing masuk, mati kita," ucapnya.

Kalaupun pemerintah ingin membuka lebar bisnis bioskop untuk asing, Djonny meminta bioskop-bioskop asing tersebut berdiri di kota-kota besar saja, tidak di kota-kota kecil yang sudah ada bioskop independen.

"Kalau di kota besar, mereka (asing) mau saingan sama XXI, Cinemaxx, Blitz, silakan saja," tutupnya.

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melakukan pembahasan dengan Badan Ekonomi Kreatif yang menyampaikan beberapa usulan panduan investasi terkait dengan bidang usaha perfilman khususnya eksebisi. Untuk sektor eksebisi atau bioskop, usulan dari intansi terkait adalah dibuka maksimal 51% untuk asing.

Kepada BKPM Franky Sibarani menyampaikan bahwa BKPM saat ini memasuki tahap pembahasanKementerian teknis terkait untuk membahas usulan panduan investasi yang disampaikan ke BKPM. "Seluruh usulan yang sudah masuk secara tertulis, segera dibahas dan didiskusikan secara bersama, dilihat dari sisi kepentingan nasional posisi Indonesia akan seperti apa," ujar Franky.

Menurut Franky, khusus terkait dengan sektor perfilman usulan yang masuk ke BKPM adalah terkait dengan upaya untuk membuka di sektor eksibisi (bioskop). Hal ini disebabkan karena rasio penduduk dan layar yang masih senjang.

“Kalau untuk perfilman ada bidang usaha yaitu produksi, distribusi dan eksebisi yakni bioskop. Di sektor eksebisi, alasan yang melandasi usulan dibukanya peluang untuk kepemilikan asing karena rasio penduduk dan layar masih terlalu sedikit baru 1.054 layar untuk 250 juta penduduk, sehingga dengan dibukanya bidang usaha tersebut diharapkan asing dapat membantu mengisi gap tersebut,” paparnya.(dtk/bh)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.